Y
Yusran Pauwah

Baca Artikel

Kembali ke Beranda
Parlemen

Jangan Sekadar Merebut Kekuasaan, Tapi Gagal Menggunakannya

Tulisan ini seharusnya tidak berhenti sebagai kritik ke luar, melainkan berani diarahkan kembali kepada diri sendiri. Karena bisa saja, tanpa disadari...

Yusran Pauwah
Yusran PauwahVerified Creator
3 min read5 Mei 2026
Kajian Publik
Jangan Sekadar Merebut Kekuasaan, Tapi Gagal Menggunakannya

Dokumentasi Kegiatan dan Gagasan Yusran Pauwah, DPRD Provinsi Maluku Utara.

Tulisan ini seharusnya tidak berhenti sebagai kritik ke luar, melainkan berani diarahkan kembali kepada diri sendiri. Karena bisa saja, tanpa disadari, apa yang selama ini dikritik justru menjadi cermin dari sikap dan cara berpikir kita sendiri. Ada kecenderungan untuk fasih berbicara tentang kekuasaan—tentang bagaimana ia harus digunakan, tentang pentingnya visi, tentang dampak bagi rakyat—namun pada saat yang sama, belum tentu semua itu benar-benar dipahami sebagai tanggung jawab yang konkret.

Merebut kekuasaan memang membutuhkan strategi, keberanian, dan daya tahan. Tetapi menggunakan kekuasaan menuntut sesuatu yang lebih dalam: kapasitas, keteguhan sikap, dan kejelasan arah. Di titik ini, pertanyaannya menjadi lebih personal—apakah selama ini cara berpikir tentang kekuasaan sudah cukup matang, atau justru masih terjebak pada bayangan bahwa posisi adalah tujuan akhir?

Ada kemungkinan bahwa semangat untuk mengkritik lahir dari kekecewaan melihat realitas yang tidak ideal. Namun kritik tanpa refleksi diri berisiko menjadi kosong. Mudah menunjukkan kelemahan orang lain, tetapi jauh lebih sulit memastikan bahwa diri sendiri tidak akan jatuh pada pola yang sama: sibuk pada simbol, lalai pada substansi; fokus pada posisi, tetapi kehilangan arah dalam menjalankan peran.

Jika suatu saat berada dalam posisi menentukan, apakah sudah siap dengan peta jalan yang jelas? Apakah sudah memiliki keberanian untuk mengambil keputusan yang tidak populer tetapi penting? Ataukah justru akan mengikuti arus, bermain aman, dan akhirnya menjadi bagian dari masalah yang selama ini dikritik?

Tulisan ini pada akhirnya bukan sekadar pengingat, tetapi juga pengujian. Bahwa kekuasaan tidak boleh hanya dipahami sebagai sesuatu yang harus diraih, melainkan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan. Dan sebelum sampai ke sana, refleksi harus dimulai dari sekarang—dari cara berpikir, dari cara memandang jabatan, dan dari kejujuran untuk mengakui bahwa perubahan tidak cukup hanya dituntut dari orang lain.

Karena kritik yang paling jujur bukan yang paling keras kepada orang lain, tetapi yang paling berani diarahkan kepada diri sendiri.

Recommended Topics / Jelajahi Kategori Real

Bagikan Tulisan Ini :

Kolom Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Kirim Komentar Anda